Kamis, 28 September 2017

Upacara Panggih dalam Adat Jawa (Solo)

Panggih atau temu manten apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah bertemu. Bertemunya kedua pengantin untuk pertama kalinya setelah sah sebagai pasangan suami istri. Seperti pada upacara adat pada umumnya upacara panggih mengandung maksud serta makna tertentu dalam pelaksanaannya. Bagaimana tata cara panggih atau temu manten dalam adat jawa. Berikut kami coba untuk menjelaskan tata caranya

Penyerahan sanggan
Sanggan merupakan simbolisasi atau sarana menebus pengantin putri. Wujud dari sanggan ini adalah satu tangkep buah pisang raja yang biasanya dihias menggunakan kertas berwarna emas. Pembawa sanggan berada dibarisan paling depan dalam rombongan pengantin putra

Tukar menukar kembar mayang
Kembar mayang adalah hiasan yang terbuat dari rangkaian anyaman janur yang ditata pada batang pisang atau gedebog. Kembar mayang adalah simbol dari doa dan pengharapan keluarga dalam kelancaran pernikahan. Kembar mayang ini dibawa oleh dua orang perempuan dan dua orang laki-laki yang belum menikah.

Setelah dilakukan tukar menukar kembar mayang, kembar mayang dari pihak perempuan yang dibawa keluar sedangkan kembar mayang dari pihak laki-laki dibawa masuk ke dalam dan diletakan di samping pelaminan. Hal ini dimaknai bahwa pihak laki-laki membawa sesuatu yang baik sedangkan kembar mayang yang dibawa keluar adalah hal buruk atau dalam istilah untuk membuang sial.

Balangan Gantal

Gantal merupakan daun sirih yang diikat dengan benang. Secara bersamaan kedua pengantin saling melempar gantal, pengantin perempuan melempar ke bagian kaki sebagai simbol bahwa sang istri akan tunduk dan patuh terhadap suami, sedangkan pengantin laki-laki akan melempar ke bagian jantung sebagai simbol bahwa suami akan mengasihi serta mengayomi istrinya.

Wiji Dadi

Wiji dadi atau midak tigan atau menginjak telur. Dengan posisi berdiri salah satu kaki pengantin laki-laki bersiap untuk memecahkan telur dengan kakinya, sedangkan pengantin perempuan duduk dihadapannya. Memecahkan telur dengan cara menginjak ini memiliki banyak makna, yakni pecahnya selaput dara atau hilangnya perawan dari istrinya. Pada saat memecahkan telur, pengantin laki-laki membulatkan tekad untuk ngayani, ngayemi, lan ngayomi (mencukupi, membahagiakan, dan melindungi) sebab secara sadar bahwa mengawini pasangannya adalah merusak status keperawanannya yang tidak mungkin kembali lagi bagaikan pecahnya telur yang diinjak, karenanya bertekad berani merusak tentu saja harus berani untuk membangun.
Selanjutnya pengantin perempuan membasuh kaki pengantin laki-laki sebagai simbol bahwa ia siap untuk berbakti sepenuhnya kepada suaminya.

Junjung Drajat
Setelah membersihkan kaki pengantin laki-laki, pengantin perempuan bersiap berdiri dengan dibantu oleh suaminya. Pada prosesi ini berarti pengantin laki-laki menyadarkan bahwa harkat, martabat dan derajatnya diangkat dan disejajarkan dengan dirinya.

Singeb Sindur/Sinduran
Sang ibu mempelai putri menyelimutkan kain sindur, yakni kain yang berwarna merah dan putih kepada kedua mempelai sedangkan ayah mempelai putri memegangi ujungnya. Kemudian ayah mempelai putri membimbing kedua mempelai ke kursi pelaminan sedangakan ibu mempelai putri berada dibelakang kedua mempelai dengan memegang kedua bahu mempelai.
Prosesi ini melambangkan bahwa orang tua masih membimbing anaknya untuk menuju kepada rumah tangga yang baik. Sang ayah yang berada di depan sebagai pembimbing sedangkan ibu yang berada dibelakang mendorong atau memberikan dukungan moral kepada kedua mempelai.

Timbangan/Pangkon Timbang
Setelah sampai di atas pelaminan, sang ayah dari mempelai putri duduk ditengah kursi pelaminan kemudian kedua mempelai duduk di kedua paha ayah. Pada saat itu ayah menimbang dengan hatinya berat mereka sudahkah sama kasih sayang terhadap mereka, yang satu adalah anak sendiri sedangkan yang satu adalah anak menantu. Lalu sang ibu bertanya kepada ayah "awrat pundi pak?" (Berat mana Pak?). Kemudian sang ayah menjawab "ah, padha wae" (Ah sama saja). Pada saat ini orang tua tidak lagi membedakan menantu dan anak, keduanya adalah anak sendiri.

Tanceban/Tanduran/Tanem Jero
Setelah pangkon timbang sang ayah berdiri dihadapan kedua mempelai kemudian sang ayah memegang pundak mereka duduk berdampingan di kursi pelaminan. Kesannya seperti ditancapkan (tanceban), atau ditanam kedua mempelai didudukan. Dengan ini orang tua telah menempatkan mereka di posisi yang seharusnya yakni rumah tangga.

Kacar Kucur

Prosesi selanjutnya adalah kacar kucur, pengantin pria menuangkan tampa kaya yang berupa beras, uang logam serta biji bijian dan bumbu dapur seperti kacang, kedelai, bawang merah, bawang putih dan sebagainya ke pangkuan mempelai putri yang dilapisi selembar kacu gembaya  atau saputangan yang berbentuk kantung. Hal ini merupakan simbol bahwa sang suami memberikan nafkah kepada istrinya. Sedangkan sang istri bertugas untuk mengatur nafkah yang sudah diberikan oleh suaminya. Setelah tampa kaya ditungkan sang mempelai putri kemudian mengikatnya dan memberikannya kepada ibunya. Dalam hal ini mengingatkan bahwa apabila mempunyai rejeki tetap tidak lupa kepada orang tua.

Dulangan
Dulangan berarti saling menyuapi antara kedua mempelai yang berarti saling kompak dan saling menghargai satu sama lain. Umumnya nasi pada saat prosesi ini adalah nasi kuning atau nasi tumpeng namun sebenarnya menggunakan nasi putih saja sudah cukup

Ngunjuk Tirta Wening
Kedua mempelai saling memberi minum dengan air putih yang bermakna harapan akan kejernihan hati di dalam berumah tangga. Namun ada pula yang menggunakan rujak degan yang beramakna harapan akan keturunan.

Mapak Besan
Mapak dalam bahasa Indonesia yang berarti menjemput. Menjemput besan untuk bersama duduk diatas pelaminan merupakan simbol dari bersatunya dua keluarga yang dulu tidak saling mengenal namun sekarang diperastukan oleh pernikahan putra putrinya.

Sungkeman
Puncak dari upacara adalah sungkeman kepada kedua orang tua sebagai tanda bakti yang sudah membesarkan serta membimbing hingga siap untuk membentuk sebuah rumah tangga yang baru.

Demikian tata cara panggih adat jawa yang umum dilakukan, namun pada panggih adat jogja ada beberapa perbedaan. Beberapa perbedaan tersebut akan kami bahas lebih detail lagi pada artikel selanjutnya

Bagi anda para calon pengantin yang masih bingung mengenai tata cara serta apa saja persiapan yang harus dilakukan untuk menjalankan pernikahan dengan adat jawa kami siap membantu anda. Hubungi kami Halo Jiva Wedding Organizer, untuk membantu anda dalam mewujudkan pernikahan impian anda. Halo Jiva Work with HEART, SMILE and Do It

Halo Jiva adalah perusahaan yang bergerak di bidang jasa Event Organizer khususnya dibidang jasa pernikahan atau lebih dikenal dengan Wedding Organizer. Kami memiliki komitmen yang tinggi untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk setiap klien kami. Loyalitas yang tinggi, kenyamanan klien, suasana kekeluargaan serta terjalinnya kerjasama yang baik dengan pihak vendor adalah prioritas kami dalam bekerja..

Hubungkan dengan kami sekarang juga

BBM
BBM
whatsapp
WhatsApp
LINE
LINE@
Contact Us
HALO JIVA
+62896-7647-6999
+62812-3215-8880
Jl. Dukuh Kupang Timur XII/48-50, Surabaya